MUHAMMADIYAH DI TENGAH-TENGAH IDEOLOGI GLOBAL
KULTUM RAMADHAN - Liberalisme adalah idelogi di luar agama dan yang memenuhi wacana
kehidupan ekonomi, sosial maupun politik bahkan keagamaan yang pada intinya
menghendaki pembebasan diri dari berbagai belenggu pemikiran sempit terhadap
ajaran agama.
Eksponen
liberalisme sangat memuja kemerdekaan berfikir dan membebaskan diri dari
penjara pemikiran orang-orang terdahulu dan lebih mengedepankan kemampuan
subyektif masing-masing individu dalam memahami ajaran agama di tengah
kehidupan. (Pluralisme agama, Yusmanisme, Gus Roy) .
Perspektif
liberal mengakui adanya pemetaan tahapan sejarah yang memiliki identitas
masing-masing, sesuai dengan tingkat perkembangan kultur, sosial maupun politis
yang melatar belakanginya dan merupakan salah satu prinsip liberal menegakkan
kholifatullah fil ardl dan tidak mementingkan faktor-faktor simbolik
formalistik dan penghormatan kepada manusia dan oleh karena itu lebih
mengedepankan kepentingan persamaan derajat manusia dan tidak boleh adanya
klain dalam masyarakat kecuali dengan mengenakan standart keimanan dan
ketaqwaan . (Gerakan Feminisme, Gender, Aminah Wadud)
Tidak
puas dengan perspektif liberal antara lain dapat melahirkan pemikiran radikal
yang lebih cenderung terfokus kepada
pentingnya pembentukan identitas diri. Oleh karena itu simbol-simbol formal dan
eksternal yang mudah dipakai untuk mengkomunikasikan diri kepada orang lain
(otherness) menjadi sangat penting dalam praktek ajaran agama , (gerakan
spiritualis) hanya outentik jika sesuai dengan pesan yang ada dalam teks ajaran
dalam kitab suci. Oleh karena itulah maka perspektif ini juga sering dikenal
sebagai penganut pemikiran tekstual atau skripturalistik. (munculnya Islam
Politik,Islam Idologi,HTI,PKS,Salafi Radikal)
Dengan
demikian radikal di sini memiliki dua konteks pemahaman, pertama partikularitas
sejarah dan kedua dalam cara-cara menghadapi perspektik atau eksponen pemikiran
lain. (Menolak Prodah Barat )Kelebihan perspektik ini adalah dalam menjaga autensitas
pesan kitab suci, sehingga memungkinkan orang untuk memahami sumber original
atau pesan autentik dari kitab suci.(Salafi)
Tidak
puas dengan dua pemikiran di atas, maka
akan memunculkan eksponen perspektif yang lebih cenderung memiliki perspektif
konstruksionis yang memahami kitab suci maupun konteks sejarah secara
interaktif.
Muhammadiyah
dalam pergerakannya lebih cenderung mencitrakan diri sebagai kaum reformis yang
sensitif terhadap kemungkinan masuknya faktor sejarah yang nisbi dalam pemahaman
agama. Muhammadiyah juga sering disebut sebagai wadah bagai pergerakan kaum puritanis yang ingin menjaga
kitab suci. Oleh karena itu, Muhammadiyah kurang berminat untuk memahami agama
seperti liberal yang lebih mementingkan konteks dan partikularitas kultural
dalam pemahaman ajaran agama.( Pruralis Agama) Namun yang menarik adalah Muhammadiyah
tidak tertarik untuk memilih gerakan radikal dalam mengimplementasikan
ide-idenya. ( Formalisasi Agama dalam Negara )Muhammadiyah cenderung
mendeprivatisasi pesan-pesan ajaran agama ke ruang publik, kendati demikian
strategi dikenakannya melalui pendekatan-pendekatan dakwah.(kultural )
Yang tidak bisa dihindari, Muhammadiyah adalah
ideologi terbuka semuanya bisa masuk ke Muhammadiyah. Karena itu,
gerakan-gerakan tidak menutup kemungkinan bisa masuk ke dalam Muhammadiyah. Dan
ideologi-ideologi itu juga dihuni oleh mantan-mantan aktifis Muhammadiyah. dengan
dalih Muhammadiyah sering kali terlambat mensikapi dan kehabisan isue untuk ke
ranah publik dan mensikapi persoalan-persoalan aktual ,dan juga bisa merusak
tatana Muhammadiyah dari dalam,

Komentar
Posting Komentar