POKOK – POKOK MANHAJ TARJIH
( 01 )
Dasar Utama Dalam Menetapkan Dalil
Di dalam
beristidlal, dasar utamanya adalah Al-Qur’an dan as-Sunnah Sahihah.
( 02 )
Batas Penggunaan Ijtihad dan Istinbat
Ijtihad dan Istinbat atas dasar illat terhadap
hal-hal yang tidak terdapat di dalam nas dapat dilakukan sepanjang tidak
menyangkut bidang taabbudi, dan memang merupakan hal yang dihajatkan
dalam memenuhi kebutuhan hidup manusia.
( 03 )
Sistem Ijtihad yang Dipakai
Dalam memutuskan
sesuatu keputusan dilakukan dengan cara musyawarah. Dalam menetapkan masalah
ijtihad digunakan sistem Ijtihad Jama’i.
( 04 )
Kedudukan Madzab dan Pendapat Imam
Tidak mengikat
diri kepada sesuatu Madzab, tetapi pendapat-pendapat Imam-Imam Madzab
dapat menjadi bahan pertimbangan dalam menetapkan hukum, sepanjang sesuai
dengan jiwa Al-Qur’an dan al-Sunnah, atau dasar-dasar lain yang dipandang kuat.
( 05 )
Kedudukan Keputusan Muhammadiyah
Muhammadiyah
berprinsip terbuka dan
toleran, dan tidak beranggapan bahwa hanya keputusan Muhammadiyah
yang paling benar.
( 06 )
Intensitas Tarjeh
Keputusan diambil
atas dasar landasan dalil-dalil yang dipandang paling kuat yang didapat ketika
keputusan diambil
( 07 )
Masalah Akidah
Dalam Masalah
Akidah ( Tauhid ) Hanja dipergunkan Dalil Yang Mutawatir
( 08 )
Kedudukan Ijma’
Tidak Menolak Ijma’ Sahabat sebagai
dasar suatu Keputusan
( 09 )
Menyelesaikan Dalil Yang Bertentangan
( 10 )
Asas Sadd al- Zaro’i
Menggunakan Sadduz Zaro’i Untuk menhindari
Fitnah dan Mafsadah
( 11 )
Menggunakan Illat Terhadap Nash al-Qur’an
dan Sunnah
Menta’lil dapat digunakan untuk memahami
kandungan dalil-dalil al-Qur’an dan Sunnah sepanjang sesuai dengan Tujuan
Syari’ah
( 12 )
Cara Menggunakan Dalil
Penggunaan dalil-dalil untuk menetapkan
suatu hukum dilakukan dengan cara koprehensip, untuh, bulat dan tidak tepisah.
( 13 )
Menghadapi Lafaz Umum dalam al-qur’an
( 14 )
Prinsip Pengamalan Ajaran Islam
Dalam Mengamalkan Agama Islam Menggunkan
Prinsip “ al-Taisir “
( 15 )
Pemahaman Bidang Ibadah
Dalam Bidang Ibadah yang diperoleh
ketentuan-ketentuan dari al-Qur’an dan
Sunnah , pemahamanannya dapat menggunkan akal sepanjang diketahui latar
belakang dan Tujuannya.
( 16 )
Akal dan Wahyu
Miskipun harus diakui bahwa akal adalah
bersifat Nisbi ,prinsip-prinsip mendahulukan Nash memiliki kelenturan dalam
menghadapi perubahan situasi dan kondisi.
( 17 )
Pemahaman Bidang Duniawiah
Dalam hal-hal yang tidak termasuk Umur
al-Dunyawiah yang tidak termasuk tugas para, menggunakan akal sangat diperlukan
demi untuk tercapainya kemaslahatan
Ummat.
( 18 )
Memahami Lafaz Musytarok
Dalam memahami Lafaz Nash Yang musytarok ,
faham sahabat dapat diterima.
( 19 )
Menghadapi Zahir dan Ta’wil
Dalam memehami Nash, Makna Zahir
didahulukan dari Ta’wil dalam bidang Akidah Dan Ta’wil Sahabat dalam hal ini tidak
harus diterima


Komentar
Posting Komentar