Implintasi pemikiran Islam
Muhammadiyah dalam penentuan awal bulan Qamariyah
Bertitik tolak kepada pemanduan bayani dan burhani :
1. Ayat-ayat Al-qur’an
الشمس و القمر بحسبان (الرحمن : 5 )
هو الذى جعل الشمس ضياء و القمر نورا وقدره
منازل لتعلموا عدد السنين و الحساب ما خلق الله ذلك إلا باالحق يفصل الآيات لقوم يطمون
(يونس : 5)
و سخرلكم الشمس و القمر دانبين و سخرلكم الليل و النهار (الإبراهيم : 33)
2. Hadist-hadist Nabi Muhammad SAW :
صوموا لرؤيته وإفطروا لرؤيته فإن غمي عليكم فأكملوا العدد.
لاتصوموا حتى تروا الهلا ل ولا تفطروا
حتي تروه فإن غم عليكم فاقدروا له.
إنا أمه أميه لأنكتب ولا نحسب الشهرهكذا وهكذا يعني مرة تسعة و عشرين
مرة ثلاثين.
Artinya : Sesungguhnya
kami adalah umat yang tidak bisa baca tulis dan tidak bisa melakukan hisab.
Bulan itu begini dan begini. Maksud beliau bulan itu kadang-kadang 29 hari dan
kadang-kadang 30 hari. [HR. Al-Bukhari dan Muslim]
1.
Al-Qur’an menegaskan bahwa benda langit dapat dihitung
geraknya dalam peredaran masing-masing. Rembulan dapat dihitung gerak
orbitalnya dan matahari juga dapat dihitung gerak semunya.
2.
Perhitungan gerak benda-benda langit itu, khususnya matahari
dan rembulan, berguna untuk perhitungan waktu baik tahun, bulan, hari dan
seterusnya.
3.
Pernyataan deklaratif al-Qur’an bahwa bulan dan matahari
dapat dihitung gerak edar masing-masing dapat diartikan imperatif (perintah)
untuk melakukan perhitungan, yang berarti sekaligus al-Qur’an mendorong umat
untuk mengembangkan pengetahuan alam khususnya astronomi.
4.
Jadi perhitungan waktu termasuk menentukan awal bulan,
menurut al-Qur’an, adalah pada asasnya berdasarkan hisab.
إنا أمه أميه لأنكتب ولا نحسب الشهرهكذا وهكذا يعني مرة تسعة و عشرين
مرة ثلاثين.
Artinya : Sesungguhnya
kami adalah umat yang tidak bisa baca tulis dan tidak bisa melakukan hisab.
Bulan itu begini dan begini. Maksud beliau bulan itu kadang-kadang 29 hari dan
kadang-kadang 30 hari. [HR. Al-Bukhari dan Muslim]
Ulama’-Ulama’ besar seperti
Muhammad Rasyid Riza, Muwafa Ahmad az-Zarqa, dan Yusuf Qardhawi menyatakan
bahwa perintah rukyat adalah perintah ber’illat (disertai ‘illat), yaitu
keadaan ummat yang masih ummi, sehingga apabila ‘illat itu sudah tidak ada,
maka perintah itu tidak berlaku.
Mereka juga menegaskan bahwa
rukyat hanyalah sarana (wasilah) saja untuk menentukan masuknya bulan Ramadhan
atau Syawal, bukan bagian dari ibadah itu sendiri.

Komentar
Posting Komentar